Konseling dan Konflik Internal

Oleh : Inna Hudaya

Pemulihan paska aborsi merupakan proses panjang yang menuntut kesediaan seseorang untuk terbuka dan melihat jauh ke dalam dirinya. Tidak ada pemulihan yang instan, selain pemulihan yang menyisakan banyak konflik yang akan kembali muncul ke permukaan pada waktu-waktu yang tidak terduga. Banyak perempuan post-abortus yang kehilangan minat mereka terhadap kehidupan, terjebak dalam keputus-asaan melawan ketakutan dan kecemasan di dalam dirinya. Tidak sedikit dari mereka kemudian mulai mencari informasi dan bantuan untuk keluar dari permasalahan tersebut, salah satunya dengan mengikuti konseling dan pendampingan. Seberapa besarkah kontribusi konseling dan pendampingan dalam proses pemulihan mereka?

KENAPA HARUS KONSELING?
Setiap manusia secara naluri memiliki keinginan untuk di dengarkan, di dukung dan di kasihi. Keinginan alami ini akan meningkat pada saat seseorang mengalami masa-masa sulit, cemas atau kebingungan. Di sisi lain, banyak orang yang tidak dapat melihat dengan jernih permasalahan yang terjadi pada diri mereka. Emosi mereka seringkali membuat mereka tidak melihat akar permasalahan dengan obyektif dan cenderung menilai segala sesuatunya berdasarkan perasaannya. Apa yang di rasakannya, itulah yang ia pahami mengenai permasalahan yang terjadi. Aborsi adalah sebuah permasalahan yang sangat personal, namun efeknya berimbas secara social, budaya, hukum dan agama. Sebuah permasalahan yang menjadi sangat rumit ketika harus di hadapi oleh seorang perempuan. Efek yang membias inilah yang menyebabkan seorang perempuan cenderung tertutup dan membiarkan permasalahan terkubur di dalam diri mereka.
Dalam kondisi seperti ini konseling menjadi penting, karena konseling dapat memenuhi kebutuhan seseorang untuk di dengarkan, di dukung dan di kasihi, sekaligus membantu seseorang mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.


Konseling adalah proses interaksi antara konselor dan klien yang terarah dan berorientasi pada problem solving. Konseling terdiri dari komunikasi dua-arah antara konselor dan klien. Keduanya berbicara dan saling mendengarkan selama sesi konseling. Dalam proses konseling, konselor membantu klien menggali dan menganalisa permasalahan dengan tujuan memecahkan permasalahan dan kepulihan klien.
Proses pemulihan membutuhkan banyak waktu dan energi. Secara emosional, proses konseling akan banyak mengeluarkan amarah, kekecewaan, air mata sekaligus harapan-harapan yang terpendam di dalam diri seseorang. Melalui proses konseling ini, konselor juga memberikan motivasi dan dukungannya.

KONFLIK INTERNAL
Apa saja konflik internal yang menghambat proses pemulihan?


Penilaian negatif terhadap diri sendiri
Seorang perempuan yang mengalami stress pasca aborsi cenderung memberikan penilaian negatif terhadap dirinya, penilaian negatif ini misalnya “ saya gagal sebagai perempuan”,”saya bukan ibu yang baik”, atau “saya kotor dan berdosa”.
Penilaian negatif ini menimbulkan konflik-konflik di dalam dirinya sehingga ia cenderung melakukan tindakan yang melawan atau menghindari orang atau situasi yang menimbulkan kegelisahan di dalam dirinya. Sebagian besar waktunya akan habis untuk fokus terhadap penilaian-penilaian negatif tersebut dan cenderung tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang berharga.


Keharusan psikologis
Keharusan psikologis adalah perasaan atau pikiran seseorang yang secara mutlak “mengharuskan” seseorang berbuat sesuatu untuk menunjang perjalanan hidupnya. Seseorang yang menghadapi beban psikologis yang berat cenderung mengatakan pada dirinya bahwa ia akan kuat melalui hal ini, contoh lain misalnya “ aku harus sembuh”, “aku harus tampak kuat”, “ aku harus sempurna”, “aku hanya akan sembuh jika…”, “aku sakit karena…dia harus membayar semua ini.”


Pengetahuan diri ( self-knowledge) seseorang dalam memahami emosi, perasaan dan tindakan-tindakannya dibutuhkan untuk memunculkan keharusan psikologis ini kedalam bentuk yang nyata. Namun, tanpa self-knowledge, keharusan-keharusan psikologis ini hanya akan menambah beban psikologis dan sedikit demi sedikit merongrong kekuatan di dalam dirinya. Semakin banyak keharusan yang muncul dan semakin banyak keharusan yang tidak bisa direalisasikan akan membuat seseorang menjadi semakin frustasi.


• Tidak menerima kenyataan
Tidak mudah bagi seseorang untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. Banyak perempuan post abortus yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa pilihannya melakukan aborsi adalah sesuatu yang salah berdasarkan keyakinannya, dan tetap menolak untuk mengakui hal itu. Penolakan ini hanya akan membuat konflik internaldi dalam dirinya.


Banyak perempuan yang merasa bahwa kesembuhan dirinya bergantung pada orang-orang di sekitarnya, kesembuhan akan datang jika orang-orang merubah sikap dan memenuhi kebutuhan psikologisnya. Orang-orang yang dituntut untuk memberikan kesembuhan biasanya adalah orang-orang yang turut serta dalam proses aborsi, misalnya pasangan atau keluarga. Pandangan ini adalah sebuah kesalahan besar, karena kesembuhan hanya datang dari dalam diri kita sendiri. Pasangan, keluarga dan konselor hanyalah faktor yang membantu pemulihan.


Seorang konselor memegang peranan penting dalam memberikan arahan dan dukungan agarseorang klien memahami permasalahan yang ada di dalam dirinya. Namun keberhasilan proses pemulihan secara sepenuhnya menjadi kuasa dan keputusan klien. Konselor hanya menjadi pendamping dalam proses tersebut, klien-lah yang akan banyak membuat keputusan dan menentukan seberapa lama proses pemulihan tersebut.


Sekali lagi, dibutuhkan komitmen untuk pulih. Tetap berada dalam keputusasaan jauh lebih mudah daripada membuat perubahan untuk pulih. Jika anda ingin pulih, yakinkan bahwa kepulihan itu untuk diri anda, bukan orang lain!