Gangguan seksual
Oleh : Inna Hudaya
Gangguan seksual bisa terjadi pada perempuan post-abortus. Biasanya para perempuan yang mengalami trauma ini akan merasakan gairah seksual nya berkurang, atau justru sebaliknya.
Frigiditas adalah kebekuan atau ketidakmampuan seorang perempuan mengalami hasrat-hasrat seksual atau mengalami orgasme pada saat bersenggama. Biasanya frigiditas ini terjadi karena beberapa faktor ( di sini kita akan memahas yang berhubungan dengan aborsi) :
Gangguan lain yang mungkin terjadi adalah vaginismus,yaitu kejang urat yang sangat menyakitkan pada bagian vagina. Fungsi vagina dapat menjadi abnormal dengan adanya kontraksi-kontraksi yang dapat sangat menyakitkan. vaginismus terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan penyebabnya. Gangguan yang mungkin terjadi pada perempuan post-abortus adalah Vaginismus jenis psikogen sekunder, yaitu akibat adanya rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan hubungan seksual. Ada rasa antipati atau rasa tidak mapan terhadap partner seksnya.
Gangguan seksual bisa terjadi pada perempuan post-abortus. Biasanya para perempuan yang mengalami trauma ini akan merasakan gairah seksual nya berkurang, atau justru sebaliknya.
Frigiditas adalah kebekuan atau ketidakmampuan seorang perempuan mengalami hasrat-hasrat seksual atau mengalami orgasme pada saat bersenggama. Biasanya frigiditas ini terjadi karena beberapa faktor ( di sini kita akan memahas yang berhubungan dengan aborsi) :
- Organis, karena adanya kelainan pada organ seksual misalnya pada rahim atau vagina. misalnya, ganguan kelainan bawaan pada vagina, seperti lubang terlalu sempit atau liang vagina pendek. Kelainan pada otot dan ganguan jaringan saraf, dan tumor pada alat kelamin. Ganguan ini akan menimbulkan rasa sakit saat melakukan hubungan intim. Perempuan post-abortus yang mengalami trauma akibat aborsi yang menyakitkan atau terjadi infeksi biasanya mengalami gangguan pada bagian organ seksualnya. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit pada saat bersenggama, sehingga hasrat seksual cenderung berkurang. Hormon juga berpengaruh, wanita usia menopause biasanya produksi hormon estogen menurun sehingga berdampak pada organ intim, seperti vagina kering, gatal dan iritasi.
- Relasi sosial yang tidak mapan, biasanya terjadi jika ada masalah dengan pasangan seksualnya. Jika perempuan post-abortus masih merasakan amarah pada pasangannya yang turut serta berperan dalam tindakan aborsi, hal ini dapat merembet ke hubungan seksual.
- Psikologis. Kondisi psikologis seseorang sangat berpengaruh dalam hubungan seksual. Seseorang yang merasakan kegelisahan dan perasaan tidak nyaman tidak dapat ,menikmati hubungan seksual.
Gangguan lain yang mungkin terjadi adalah vaginismus,yaitu kejang urat yang sangat menyakitkan pada bagian vagina. Fungsi vagina dapat menjadi abnormal dengan adanya kontraksi-kontraksi yang dapat sangat menyakitkan. vaginismus terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan penyebabnya. Gangguan yang mungkin terjadi pada perempuan post-abortus adalah Vaginismus jenis psikogen sekunder, yaitu akibat adanya rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan hubungan seksual. Ada rasa antipati atau rasa tidak mapan terhadap partner seksnya.
