October 20, 2014

Kenapa harus Follow Up setelah aborsi?


Kenapa sih harus ribet banget pake follow up setelah aborsi dengan obat?
Nah, di artikel sebelumnya kamu sudah tahu bahwa meskipun aborsi sudah berhasil namun belum tentu aborsi tersebut komplit. Untuk memastikan bahwa aborsi komplit inilah makanya follow up menjadi penting.

Jika kamu aborsi dengan operasi kecil atau yang biasa kita sebut sebagai surgical abortion, biasanya dokter akan meminta kamu kembali untuk melakukan check up dua minggu setelah aborsi. Saat check up ini dokter akan memastikan apakah semua produk konsepsi sudah keluar atau belum. Jika sudah keluar semua, maka bisa dipastikan aborsi sudah komplit. Namun jika belum, itu artinya masih ada jaringan yang tertinggal dan perlu dikeluarkan. Sisa jaringan yang tertinggal bisa dikeluarkan dengan kuret atau cukup dengan dosis tambahan misoprostol, tergantung ukurannya seberapa besar.

August 11, 2014

Do It Yourself (DIY) Abortion

Aborsi sendiri?
Memangnya aman?
Itu pertanyaan yang paling sering ditanyakan dan juga ditakutkan oleh perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan dan sedang mencari informasi untuk aborsi.

Apakah aborsi sendiri aman? Ya, aborsi yang dilakukan dengan misoprostol aman dilakukan di rumah. Hanya dengan 12 pil misoprostol, perempuan bisa melakukan aborsi aman sampai usia kehamilan 13 minggu. Dosis ini adalah dosis yang direkomendasikan oleh WHO di dalam panduan teknis untuk aborsi aman edisi ke-2 pada tahun 2013. Gak percaya? cek dan baca sendiri disini.

Maksudnya Do It Yourself di sini bukan berarti kamu melakukan aborsi sendirian. Maksudnya adalah kamu (baca:perempuan) sendiri yang memutuskan dan menentukan proses aborsimu, tanpa perlu bantuan Dokter atau tenaga medis. Kamu bisa lakukan di rumahmu, tanpa harus datang ke klinik. Saat aborsi kamu tetap harus didampingi oleh seseorang yang kamu percayai, untuk memastikan jika tanda-tanda komplikasi muncul bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Tapi kemungkinan komplikasi ini sangat kecil sekali, hanya sekitar 2% saja.

January 22, 2014

Mengakses hotline secara efektif

Apakah anda pernah menghubungi hotline dan merasa prosedur hotline sangat ribet? Atau anda jengkel karena bukannya langsung memberitahu dimana bisa membeli obat, konselor justru banyak tanya ini itu?

Hotline Samsara adalah hotline yang didekasikan untuk pemenuhan hak-hak perempuan atas kesehatan reproduksi termasuk informasi aborsi aman. Setiap konselor mendapatkan pelatihan dan mentoring untuk memastikan bahwa layanan hotline tidak hanya memberikan informasi, namun juga memastikan bahwa informasi yang diberikan tepat guna dengan kondisi kesehatan perempuan.
Setiap perempuan memiliki tubuh yang unik, setiap perempuan memiliki riwayat dan kondisi kesehatan yang berbeda-beda. Itu sebabnya penting bagi konselor untuk mengetahui informasi dasar mengenai kesehatan anda sebelum memberikan informasi yang anda butuhkan.
Kami memahami bahwa dalam situasi KTD kebanyakan perempuan merasa bingung dan ingin cepat-cepat menemukan solusi mereka. Namun sebagai konselor, tugas kami adalah memastikan setiap perempuan yang mengakses layanan kami mendapat dukungan yang tepat. Seringkali dalam keadaan bingung, perempuan terburu-buru membuat keputusan dan mengakses layanan aborsi aman. Hal ini pula yang seringkali membuat perempuan tertipu oleh penjual obat, tidak berhati-hati dalam memilih layanan dan mengalami kegagalan aborsi baik karena obatnya palsu atau karena riwayat medis yang mempengaruhi efektifitas obat.

July 19, 2013

Bagaimana mengetahui apakah aborsi berhasil atau tidak?

Jika anda melakukan aborsi secara mandiri, seringkali anda merasa khawatir dan ragu apakah aborsi sudah berhasil atau belum. Dalam situasi ini anda merasa bingung dan serba salah. Untuk memastikan apakah aborsi berhasil atau tidak adalah dengan melakukan pemeriksaan ke dokter dan melakukan tes ultrasound. Namun seringkali anda merasa khawatir jika dokter mengetahui anda telah melakukan aborsi.

Jika anda ingin mengetahui apakah proses aborsi sudah berhasil atau belum, anda bisa melakukan konsultasi dengan menghubungi nomor hotline. Konselor akan membantu menganalisa apakah aborsi yang anda lakukan berhasil atau tidak. Pastikan anda memberikan informasi yang akurat agar konselor dapat melakukan analisis dan rekomendasi yang tepat. Tim Ask Inna akan mengirimkan hasil analisisnya melalui email paling lambat 2 x 24 jam.

Pasangan saya baru aborsi, apa yang harus saya lakukan?

Aborsi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang aman bagi kesehatan perempuan. Namun, karena kurangnya informasi yang relevan dan dukungan dari petugas medis, seringkali perempuan dan pasangan menjadi panik setelah aborsi. Biasanya kepanikan ini berhubungan dengan kekhawatiran adanya komplikasi, infeksi atau resiko kesehatan jangka panjang.

Setelah aborsi, pasangan anda masuk masa follow up atau observasi. Dalam masa observasi ini, dokter atau konselor akan mengidentifikasi tanda-tanda klinis dan non-klinis. Namun, tanpa bantuan dokter atau konselor, anda dan pasangan dapat secara mandiri mengidentifikasi tanda-tanda tersebut.

July 10, 2013

Apakah saya mengalami stress pasca aborsi?

Apakah anda merasa stress setelah aborsi? bagaimana mengenali emosi anda dan memahaminya? berikut beberapa artikel yang perlu anda baca untuk membantu anda dan pasangan melalui situasi ini.


Mengenali emosi anda :
Kemarahan
Kegelisahan
Numbness
Gangguan Tidur
Ganguan Seksual

Memahami emosi anda :
Memahami Rasa Bersalah
Memaafkan Diri Sendiri
Memaafkan Orang Lain
Mengatasi Kegelisahan
Membangun Harga Diri
Mengatasi Numbness
Mengatasi Mimpi Buruk
Memperbaiki Relasi
Musuh Perusak Dalam Diri Anda
Crying is Healing

Untuk Pasangan :
Pasangan anda stress?
Bagaimana mendukung pasangan anda?
Lelaki dan Aborsi

Konseling & Support Group :
Konseling dan Konflik Internal
Program Pemulihan
Tahapan Pemulihan
Pentingnya Komunitas Pendukung

June 24, 2013

‘Medical abortion is revolutionary’: Samsara’s Inna Hudaya on abortion access in Indonesia

This article was published in Medical Abortion Matters (May 2013)

In 2008, Inna Hudaya helped found Samsara, an organization in Indonesia dedicated to promoting sexual and reproductive health and rights (SRHR) education and information, including safe abortion. One of Samsara’s main programs is a national safe abortion hotline.

In a recent interview, Hudaya explained the hotline previously focused on helping women find safe abortion providers, but the increasing availability of misoprostol has revolutionized how she and her colleagues assist women.




Why did you decide to start Samsara and what is its mission?

Hudaya: I had an unplanned pregnancy 10 years ago. I was young, lacked information about safe sex, had no access to contraception and no support in deciding anything about my sexual and reproductive health choices. Without understanding my choices and the consequences, I decided to have an abortion when I was six weeks pregnant. I wish I had reliable information and support—then I wouldn’t have had to deal with unnecessary depression afterward. I was emotionally, financially and socially bankrupted by fear and stigma.


That’s why I decided to start Samsara. Originally it started as a blog where I published my abortion story and translated many articles about abortion into Bahasa Indonesia, the national language. I wanted to make sure that women have enough reliable information to make informed decisions. In less than a year, I had received many emails from women in Indonesia who experienced the same situation I did; that’s how Samsara grew. The mission is to provide reliable information and support for women with unplanned pregnancies and for women who have had abortions. We also strive to bring the “A word” into public discussion. For us, sharing is empowering, and the personal is political.

Editor’s note: To see Hudaya tell the story of how she founded Samsara, watch this video.


What is the legal situation regarding abortion in Indonesia? Do you have any problems with the law when Samsara offers counseling about abortion?


Abortion is illegal except to save the life of the woman, and in cases of fetal impairment or rape. But even though abortion is legally restricted, it is actually very common in Indonesia. So far we have had no problems with the law, probably because Indonesia’s government doesn’t consider sexual and reproductive health an important issue—they just don’t care about it.


Where and how does your hotline operate?


It’s national, so we operate all over Indonesia. And we sometimes also receive emails and calls from Southeast Asia—places like Malaysia, the Philippines, Thailand and India. We offer counseling, and the phone hotline is one of the media we use, but we also have a website with an online form women can fill out and submit to us. In addition, women can email us or come visit our office if they live in our city. We respond to emails 24 hours a day, but the hotline is open Monday to Friday.


More than 80 percent of our callers find out about us on the Internet, so when we started the hotline we did not do much promotion—we only used social media for dissemination. I started my blog in 2007 because there’s not enough reliable information in Bahasa Indonesia (our language) on the Internet. But if you Google “abortion” in Bahasa, there are so many search results. In the last few years, my goal has been for Samsara to show up in the first page of Google search results—which it now does. It’s quite interesting because from 2007-2009 we found that most women found us by searching the keyword “abortion,” but since 2009, most people find us with the search terms “safe abortion” or “where to find safe abortion.”


How does Samsara incorporate medical abortion (MA) into its work?


Samsara’s hotline started in 2008. At that time we helped women access surgical abortion by mapping out the clinics that would provide abortions, advising on how to deal with doctors and how not to get cheated, etc. The biggest challenge was that only if you are educated, rich and live in a big city can you access those clinics easily. It breaks my heart that most women have had to go through discrimination and violence to access safe abortion.


We integrated MA into the hotline in 2011. We were in contact with Women on Web, and they came to Indonesia and gave us training on medical abortion, so that’s how we got started. And I would say that MA is revolutionary. It has had a big impact for women in general and for Samsara specifically. Now we receive fewer stories from our clients about how they went through discrimination and violence to access abortion. With MA, women become the doctor for themselves; they can do it at home safely and fully have control over it.


For a country like Indonesia, where most women aren’t well informed about their health and bodies, MA also educates women to be more aware of the changes and signs in their bodies during and after the abortion. For most clients, this experience is a starting point from which they begin to exercise knowledge about their own bodies.


Does MA now comprise the majority of your counseling?


Yes, it’s mostly medical abortion now. Most women with unplanned pregnancies who contact us are unmarried and have mid- to lower-level incomes, so they don’t have access to contraception and that’s why they’re facing unwanted pregnancy. That’s also why most of them choose medical abortion—it’s cheaper. Privacy is also a factor. In a country where abortion is legally restricted, privacy and security are the most needed.


How do you advise women to access MA in Indonesia?


Women can access misoprostol in pharmacies as a medicine for gastric ulcers. Usually it’s easier to access in small cities and drug stores as opposed to big cities and big pharmacies. Misoprostol is also available over the Internet, but this is risky. Many women report they get cheated; they send money but the medicine never arrives, or the medicine arrives but has no effect.


We tell women the highest price that is acceptable for a seller to charge; we also tell women the name of the brands to ask for. One barrier is that if you go to a pharmacy and say you need misoprostol for a gastric ulcer, the maximum amount they will give you is three or four pills, so women have to find at least three pharmacies and get four pills from each pharmacy—or use the same pharmacy but first the woman visits, then maybe her boyfriend, and then perhaps a friend. So it’s quite tricky.


Another problem is medical abortion protocol. Many drug sellers on the Internet do not provide women with the right protocol. And for doctors, many of them give women only enough misoprostol to start a miscarriage so the women will come back to them and pay more for a uterine evacuation. It’s legal for the doctor to do this because abortion is legal if the woman presents with a miscarriage. So doctors know how to use medical abortion, they just don’t want to give the right protocol.


The availability of misoprostol helps women access safe abortion, but reliable information and counseling take an important role in ensuring that women know how to do it by themselves. In my opinion, the definition of safe abortion needs to be changed: It’s the combination of a woman’s choice, reliable information and medical treatment only if needed.


Can you explain further what you mean when you say the definition of safe abortion needs to be changed?


Before I always thought that safe abortion is like everyone says: performed by a doctor in a clinic, and then it’s safe. But our experience shows that it’s safe for women to do it themselves as long as they have reliable information. Sometimes, even if a woman goes to the doctor, he or she will not give you any information about what is happening in your body. So for me, with medical abortion, you give back this authority to the hands of women. They can become the doctor for themselves as long as they have the information, the right protocol, and knowledge of normal side effects and when to seek medical treatment. Women are very smart, strong and capable of doing this. If they don’t need medical treatment, why should they pay for it?


In the future, what do you hope Samsara will accomplish?


I wish to see more women able to access our hotline. Our biggest challenge is to reach more women in rural areas who do not have access to the Internet.


I also want to see Samsara be a model for MA hotlines. Working on an abortion hotline is not easy, and people who do this work are at risk of burning out. It takes hard work and guts to do it. But it’s very powerful because hotlines can reach the grassroots. Therefore, I want to create a system that can help hotlines work more effectively and efficiently and place fewer burdens on the counselors.


I’m working now on the concept of a hotline model that includes how to manage resources and how hotlines can work more efficiently and effectively within a tight budget, and hopefully this can be helpful for other hotlines. We have shown the world that funding and resources are not limitations when you really believe in something. Most women who work on hotlines have passion for and interest in this issue, but the job is quite difficult. .


Do you have plans to advocate changing Indonesia’s abortion law?


I do believe in advocacy, but pregnant women cannot wait for that. Pregnant women cannot wait for the law to change, so I think hotlines can offer the change they need. Hopefully we will see law change in the future, but I’m not thinking it will change soon. I believe advocacy to change the law must go along with advocacy to change society. What we do now is work to change society’s perspective on abortion. We talk about abortion in public, about abortion stigma and how this can affect women, their families and society. Even if the law changes, if society is not ready for it, then there will be no true change. I think it’s better that other organizations and networks work to change the law, and for Samsara to work to change our society—so when the law changes, society is open and ready for that. That would be great.


Source : Ipas

June 22, 2013

Misoprostol

Tablet misoprostol merupakan salah satu obat penting yang masuk dalam daftar WHO (World Health Organization). Tablet ini dapat digunakan secara mandiri oleh para perempuan untuk menyelamatkan hidupnya.

Misoprostol meyebabkan kontraksi pada rahim dan dapat digunakan sebagai berikut:
  • Pengguguran kandungan secara aman
  • Membersihkan sisa-sisa keguguran
  • Mencegah dan mengobati pendarahan berat setelah melahirkan
  • Induksi kelahiran

Aborsi merupakan salah satu model intervensi kesehatan yang paling umum di dunia. Berdasarkan data WHO, setiap tahunnya 42 juta perempuan memilih aborsi dengan beragam alasan. Aborsi merupakan prosedur kesehatan yang paling umum dilakukan oleh perempuan di seluruh dunia. Namun, banyak perempuan tidak memiliki akses terhadap layanan aborsi aman sehingga membahayakan hidup dan kesehatan mereka. Aborsi tidak aman adalah penyebab utama kematian saat melahirkan. 1 dari 300 perempuan meninggal karena aborsi tidak aman. Secara global, 70.000 perempuan di dunia meninggal sia-sia setiap tahunnnya. Banyak perempuan lain menderita komplikasi jangka panjang seperti ketidaksuburan dan nyeri kronis.

Informasi mengenai aborsi aman dapat membantu perempuan menyelamatkan hidup dan kesehatannya, terutama negara-negara dimana misoprostol mudah diakses. Metode aborsi menggunakan misoprostol terbukti cukup aman dan efektif. Tingkat keberhasilannya 80-85% jika dilakukan dalam 9 minggu pertama kehamilan. Metode ini jauh lebih aman dibandingkan mengakhiri kehamilan dengan aborsi tidak aman.

Pendarahan berat(Postpartum hemorrhage, PPH) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka kematian ibu setelah melahirkan (25%).

Setiap tahun, 14 juta perempuan mengalami pendarahan setelah melahirkan, sedangkan 120.000 perempuan lain meninggal karenanya. Dengan kata lain, 1 dari 10 perempuan akan mengalami PPH setelah melahirkan dan dari 1 diantara 100 yang mengalaminya akan meninggal. Penggunaan misoprostol paska persalinan akan mengurangi resiko pendarahan berat hingga 50%.

Sisa-sisa keguguran dapat menyebabkan pendarahan berat dan infeksi.

Misoprostol dapat digunakan untuk mencegah komplikasi tersebut, dan biasanya dipakai oleh para dokter. Namun, perempuan sendiri juga dapat menggunakan misoprostol untuk membersihkan sisa-sisa keguguran.
Misoprostol untuk persalinan

Misoprostol bukanlah obat yang mahal, banyak tersedia, tahan panas, dan dapat disimpan selama bertahun-tahun. Di Indonesia, misoprostol tersedia di apotek dengan merk dagang Noprostol, Gastrul, Cytotec, Citrosol dan Chromalux.

December 24, 2012

Penggunaan Perspektif Perempuan Pada Perumusan Fiqih Tentang Aborsi

Ditulis kembali oleh Tia Setiyani

Semua perdebatan terkait tinjauan Islam mengenai aborsi dapat ditengahi dengan penggunakan perspektif perempuan . Hal ini sangat diperlukan terutama untuk mendorong adanya formulasi fiqh kontemporer tentang aborsi . Tujuannya untuk kehidupan perempuan bisa menjadi lebih aman, sehat dan membahagiakan. 

Kenyataannya pandangan keagamaan tertentu ikut bertanggungjawab terhadap perempuan. Larangan aborsi ternyata tidak efektif untuk menghentikan praktek aborsi, bahkan menghantarkan para perempuan untuk secara terpaksa dan diam-diam menerima praktik-praktik yang tidak aman. Selain itu, ada hal yang hilang ketika persepktif perempuan tidak digunakan dalam membahas persoalan aborsi. Bahwa hukuman pelanggaran aborsi hanya ditujukan kepada perempuan tanpa menyentuh pasangannya yang mengakibatkan dia hamil.

Dalam agenda perumusan fiqh aborsi dengan perspektif perempuan, yang harus pertama kali dilakukan adalah identifikasi pertimbangan-pertimbangan yang sangat kuat dan memaksa(dharuriyyat) bagi praktek aborsi. Fiqh klasik, setidaknya dalam madzhab Hanafi, telah memberikan contoh; misalnya pertimbangan kekeringan air susu, karena si ibu hamil masih memiliki bayi masih kecil yang sedang disusui, sementara suami tidak memiliki kecukupan untuk membeli susu atau membayar perempuan lain untuk menyusui bayi tersebut. Pertimbangan seperti ini perlu dirumuskan kembali dalam konteks sekarang; misalnya kehamilan akibat perkosaan yang sangat mengganggu kondisi perempuan, kondisi tubuh tidak kuat melahirkan atau pertimbangan-pertimbangan lain yang perlu dikaji dan dirumuskan terlebih dahulu dengan para pakar di bidang masing-masing. Yang sangat penting juga, bahwa agenda perumusan ini harus didasarkan kepada prinsip-prinsip yang diturunkan dari teks-teks al-Qur’an dan hadits yang menjadi perujukan pembicaraan ulama tentang aborsi.


Prinsip-prinsip (kaidah ushul fiqh) [S1] yang coba ditawarkan adalah

Pertama prinsip penghormatan kepada kehidupan manusia , baik terhadap kandungan maupun terhadap ibu yang mengandung. Aborsi dalam hal ini tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa sebab dan alasan yang kuat.

Kedua, prinsip nyawa ibu lebih diutamakan daripada nyawa kandungan (al-umm ashl an-nasl, wa al-ashl muqqaddamun ‘ala al-far’)

Ketiga, prinsip bahwa penentuan ketetapan harus diberikan kepada yang paling minimal resikonya baik terhadap diri ibu maupun kanndungan (idza ta’aradhat al-mafsadatan ru’iya a’zhamuhuma bi irtikad akhaffima)

Keempat, prinsip bahwa setiap diri diharuskan untuk berupaya untuk tidak menjerumuskan kepada kerusakan dan kehancuran dirinya (wa la tulqu bi aydikum ila at-tahlukah). 


Prinsip-prinsip dan kaidah ushul fiqih ini sebenarnya menghimbau semua komponen masyarakat, siapapun ia, memperoleh amanat untuk memelihara kehidupan kemanusiaan, baik yang terikat dalam kandungan maupun ibu yang mengandung. Membiarkan praktik-praktik aborsi terjadi merajalela adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, pada saat yang sama menejerumuskan ibu-ibu pada pilihan aborsi yang tidak aman yang mengancam jiwa mereka, juga kejahatan terhadap kemanusiaan. Kontroversi aborsi memang sangat menyulitkan, tidak sesederhana pandangan orang dengan polarisasi dua kutub; pro life dan pro choice.

Saat ini, perumusan fiqh tentang aborsi harus memihak kehidupan kemanusiaan dengan makna yang sesungguhnya, bukan sebatas persoalan nyawa. Baik kehidupan janin saat di dalam kandungan, saat kelahiran, paska kelahiran dan masa –masa pertumbuhan serta perkembangan berikutnya. Maupun kehidupan ibu yang mengandung, saat kehamilan, melahirkan, menyusui, merawat, dan membesarkan. Ketika realitas sosial masih membebankan persoalan kandungan –apalagi dalam kasus kehamilan yang tidak direncanakan-terhadap perempuan semata; baik beban mental, fisik, dan ekonomi; pada seluruh fase kehamilan, kelahiran dan paska kelahiran, maka pusaran utama dalam perumusan fiqh aborsi adalah perempuan, dengan mendasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan riil kehidupan nyata yang dialami perempuan hamil. Dengan melihat realitas yang seperti ini, pemihakan terhadap perempuan menjadi sebuah keniscayaan dan sangat penting.

Kesimpulan:

Dalam fiqh, pandangan ulama mengenai aborsi sangat beragam, karena itu sangat tidak bijaksana jika hanya ‘nada pelarangan’ yang didengung-dengungkan kepada masyarakat. Karena pada praktiknya, pelarangan aborsi justru menempatkannya pada sudut yang gelap, tidak terjamah tangan-tanagn medis dan membahayakan perempuan. Larangan aborsi hanya bisa difatwakan ketika disertai dengan pendampingan dan penguatan.



Jika tidak, larangan aborsi sebenarnya hanya akan menyerat kepada kondisi yang membahayakan dan menistakan. Pada saat yang sama aborsi juga tidak bisa diperkenankan begitu saja, karena menyangkut moralitas kehormatan kemanusiaan, baik bagi kandungan, ibu yang mengandung, keluarga maupun masyarakat luas. Mungkin cukup tepat jika diusulkan adanya Lembaga Konsultasi aborsi, yang menjadi media konseling bagi para perempuan-atau pasangan- yang ingin melakukan aborsi aman. Sebelum menjatuhkan pilihan aborsi, dia bisa memperoleh informasi yang tepat, tentang moralitas kemanusiaan, kondisi fisik, dan mental tubuhnya, serta informasi pelayanan medis yang paling aman dan sehat. Menurut Faqih, lembaga ini paling tidak terdiri dari ulama yang arif, psikolog yang bijak dan ahli medis yang professional. Pada prinsipnya kehidupan manusia harus dihormati, dimuliakan dan dilestarikan. 



*sumber ; Makalah “Penghentian Kehamilan (yang Tidak Dikehendaki) Secara Tidak Aman) ; Tinjauan Islam oleh Faqihuddin Abdul Kodir, dalam sebuah Workshop mengenai kesehatan reproduksi, 21 Agustus 2003 di Yogyakarta. Faqihuddin Abdul Kodir MA merupakan Direktur Fahmina Institute. Beliau adalah dosen STAIN Cirebon dan alumnus fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah.



Sumber : Samsara News

December 17, 2012

Tinjauan Islam Memandang Aborsi

Ditulis kembali Oleh Tia Setiyani

Sebuah tulisan yang menarik coba ditawarkan oleh Ahli Fiqh Faqihuddin Abdul Kodir, yakni dengan memaknai teks-teks dan pandangan-pandangan ulama dalam hal aborsi. , Islam pada dasarnya melarang aborsi adalah sesuatu yang dipaksakan. Menurut Faqih, Islam atau lebih tepatnya fiqh telah membiarkan teks-teks tentang aborsi terbuka untuk diperdebatkan. Jika pada masa lalu saja, mereka membuka perbedaan dan perdebatan seputar aborsi, maka pada sekarang perdebatan itu juga harus diteruskan untuk menemukan pandangan yang lebih tepat dengan konteks kita saat ini.

Ayat-ayat al-Qur’an yang biasa digunakan para penulis dalam membicarakan persoalan aborsi adalah ayat-ayat yang tidak langsung, karena yang eksplisit melarang atau membolehkan aborsi sebenarnya memang tidak pernah disebutkan di dalam al-Qur’an itu sendiri.


Ayat-ayat yang tidak langsung yang dimaksud kebanyakan berisi tentang penghormatan manusia, penciptaan dan proses perkembangan janin serta larangan membunuh anak seperti (Qs. Al-Isra, 17:70), (Qs. Al-An’am, 6:151), (Qs. Al-Isra, 17; 31), (Qs. Al-Hajj, 22:5), (Qs. Al-Mu’minun, 23: 12-14) dll.

Sebenarnya masih sulit untuk menyatakan dengan tegas bahwa al-Qur’an telah membicarakan persoalan aborsi dan mengharamkannya. Beberapa sisi memang aborsi disamakan dengan pembunuhan yang diharamkan, tetapi dari sisi-sisi lain tidak bisa disamakan begitu saja. Contohnya pemaknaan kandungan yang masih diperdebatkan kapan ia mulai memiliki nyawa. Berbeda jelas pada obyek pembunuhan yakni manusia yang jelas-jelas bernyawa. 


Aborsi dalam Perdebatan Ulama Fiqh

Perbedaan pendapat sudah dimulai dari menyamakan aborsi dengan ‘azl atau senggama terputus. Seperti yang diceritakan Imam Muhammad bin Isma’il ash-Sha’ani (1059-1182H) : ‘azl pun ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. (Subulussalam, 3/146). 


Muhammad Syaltut dari ulama kontemporer misalnya menceritakan bahwa ulama fiqh sepakat menyatakan haram terhadap aborsi paska peniupan ruh kecuali jika kehamilan itu mengancam kehidupan ibu yang mengandung. Tetapi terhadap aborsi pra-peniupan, ulama fiqh berbeda pendapat (al-Fatwa, 289-292).


Syekh Jadul Haq lebih rinci lagi menjelaskan pernyataan beberapa madzhab fiqh dalam aborsi . Madzhab Hanafi aborsi sebelum kandungan umur 120 hari secara umum diperbolehkan jika ada alasan yang sah;memelihara air susu agar tetap mengalir bagi bayi yang sedang disusui, kekhawatiran pada kesehatan ibu karena hamil, atau kesulitan medis yang harus dialami sata melahirkan.


Sementara mayoritas ulama madzhab Malikiyah melarang aborsi sekalipun kandungan belum berumur 40 hari, karena menurut mereka proses kehidupan telah dimulai sejak pertemuan sperma dengan ovum. Proses ini dimuliakan. Sedang, Ibn Hajar membolehkan aborsi sebelum kandungan berumur 42 hari, sementara Muhammad bin Abu Sa’id mengizinkan selama belum mencapai umur kandungan 80 hari. Madzhab Zaydi memperkenalkan aborsi sebelum kandungan berumur 120 hari, karena dianggap sama persis dengan ‘azl (senggama terputus) yang memang diperkenankan. 


Pada makalah ‘Telaah Kritis terhadap Fakta Aborsi Perspektif Fiqh Kontemporer, menguraikan apakah pengguguran kandungan dibolehkan? “Ya, selama belum terjadi penciptaan, dan itu baru terjadi berusia 120 hari” (Husein Muhammad). Dalam semangat yang hampir sama, Sayyid Sabiq menyatakan bahwa pengguguran kandungan sebelum berumur 120 hari bisa dilakukan dengan alasan yang tepat, jika tanpa alasan maka hukumnya makruh saja. (Fiqh as-Sunnah, 2/177-178).


Intinya, bagi kelompok yang mengharamkan, memandang bahwa konsepsi adalah proses awal dari kehidupan manusia,yang harus dihormati. Namun, dalam pernyataan Imam al-Ghazali (w. 505 H) misalnya, aborsi sangat berbeda dengan ‘azl. Karena aborsi adalah tindakan pidana terhadap sesuatu yang telah ada dan berproses untuk memulai kehidupan (mawhudun hashil). Sementara ‘azl hanya sekadar pemutusan sebelum terjadinya konsepsi sebagai awal dari proses kehidupan. 


Perspektif Perempuan

Berbagai tulisan, buku, diskusi banyak memperbincangkan persoalan aborsi di Indonesia -dimulai dari persoalan legalitas hukum, moral, dan atau agama – yang belum dilakukan adalah penggunaan ‘perspektif perempuan’ sebagai kerangka berfikir utama.


Umar bin Khattab ra suatu saat menyatakan; “Dulu kami pada masa Jahiliyah sama sekali tidak memperhitungkan kaum perempuan, kemudian ketika datang Islam dan Allah Swt menyebutkan mereka di dalam kitab-Nya, kamu tahu bahwa mereka juga memiliki hak terhadap kami, tetapi kami masih enggan menyertakan mereka dalam urusan-urusan kami”. (Hadits Bukhari, kitab 77/bab 31, no. 5843). Ini menjadi gambaran realitas sosial-budaya yang memarjinalkan perempuan, termasuk pada masyarakat muslim sendiri. Sehingga Nabi Muhammad Saw, menjelang akhir hayatnya beliau , pada saat haji wada’ menyampaikan pesan ke hadapan ribuan sahabat; “Aku wasiatkan kepada kalian, agar berbuat baik kepada perempuan, karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian. Padahal, kalian berkewajiban untuk berbuat baik kepada mereka,” (Hadits Turmudzi no. 1163 dan Ibn Majah 1851)


Pernyataan Nabi Muhammad saw ini merupakan peneguhan terhadap dua hal; bahwa realitas sosial dalam banyak hal sering tidak bersahabat terhadap perempuan , dan ini bertentangan dengan misi Islam itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan persoalan aborsi misalnya, realitas sosial sampai saat ini masih menyudutkan perempuan, bahkan membahayakan dan mengancam jiwa mereka. Dalam hal aborsi, baik pandangan keagamaan, perilaku budaya, kebijakan pemerintah maupun tatanan hukum dan sosial, semua mengarah kepada perempuan dan menjadikan mereka korban-korban stigma dan praktik aborsi, baik secara fisik dan juga mental, baik aborsi yang aman apalagi yang tidak aman. 


Fakta yang seharusnya bisa dilihat secara murni menjadi sebuah pertimbangan; WHO mencatat 15-50 % kematian ibu disebabkan aborsi yang tidak aman. Dari tiap 20 juta pengguguran kandungan yang terjadi di dunia setiap tahunnya, ditemukan 70.000 perempuan meninggal dunia karena praktik aborsi tidak aman. Angka ini termasuk tinggi dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara.


*sumber ; Makalah “Penghentian Kehamilan (yang Tidak Dikehendaki) Secara Tidak Aman) ; Tinjauan Islam oleh Faqihuddin Abdul Kodir, dalam sebuah Workshop mengenai kesehatan reproduksi, 21 Agustus 2003 di Yogyakarta. Faqihuddin Abdul Kodir MA merupakan Direktur Fahmina Institute. Beliau adalah dosen STAIN Cirebon dan alumnus fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah.



Sumber : Samsara News

.

.